Sekian lama berhenti untuk berkarya. Banyak keterbatasan yang membuat jemari tak lagi bisa menari di antara huruf-huruf cantik. Bismillah, kita mulai lagi ya
Merasa terlalu berat untuk semua yang sedang dijalani. Aku yang terbiasa dibantu dengan dua pasang kaki yang gagah, kini tersisa satu pasang. Jalanku sudah pincang, tidak ada pengganti untuk sepasang kaki yang telah hilang.
Terkadang merasa tak sanggup untuk menjalani kehidupan yang sama sekali bukanlah aku di dalamnya. Kehidupanku adalah orang lain yang menjalankannya, aku sudah kehilangan diriku sejak lama. Sejak hari itu, mendung dan gelap tanpa celah, rintik hujan yang tajam menghujam butiran tanah yang ditapaki. Aku sudah hilang, lama hilang.
Bahkan diriku sendiri tidak mampu mencari keberadaan diriku sendiri. Ragaku masih tegak berdiri menjalani kehidupan yang abu-abu, namun jiwaku sudah ikut terkubur dalam dinginnya tanah kubur di bawah nisanmu. Layaknya mayat tak berjiwa, berjalan di atas bumi entah siapa.
Aku lelah menjalani kehidupan yang sama sekali bukan aku di dalamnya. Hati dan pikiranku sudah terlanjur hancur tak bersisa, bahkan mungkin tertiup angin dan hilang dalam tenang. Aku tidak tahu, kehidupan siapa yang kini ku jalani. Aku tidak tahu, peran siapa yang sedang ku mainkan. Aku tidak tahu, jiwa siapa yang bersemayam dalam raga ini.
Setiap kembali, rasanya aku seperti kehilanganmu berkali-kali
Aku masih ingat kau selalu datang menjemput jam berapapun aku tiba, selelah apapun harimu
Terduduk di kursi tunggu seorang diri sejak satu jam sebelum kedatanganku
Senyum terukir di wajahmu saat kau melihatku turun dari sebuah gerbong kereta
Tatapan penuh syukur dan bahagia terpancar selama kau melihatku berjalan ke arahmu
Tanganmu sudah terbuka seolah-olah siap memelukku dari kejauhan
Pelukan erat yang kau sematkan di tubuhku, mengelus punggungku sembari berucap syukur
Aku masih mengingatnya
Ramadhan dua tahun lalu kau yg terbaring di ranjang rumah sakit karena tubuhmu yang luar biasa melemah
Kau selalu bertanya kapan aku akan pulang
Disaat kau tak mampu menggerakkan tubuhmu sendiri berhari-hari
Malam itu, aku datang melihatmu
Tanpa aba-aba dengan kekuatanmu sendiri kau menopang tubuhmu untuk duduk
Semua yang menyaksikan tak percaya atas kekuatan rindumu padaku
Seperti biasa, tanganmu terbuka ingin memelukku
Pelukan erat yang tak bisa menahan muara tangismu kian mendesak hatiku
Baru ku tahu, inilah rindu seorang ayah pada putrinya, rindu menggebu yang tak tertahankan
Aku masih mengingatnya
Ramadhan tahun lalu kau tak pernah bosan bertanya kapan aku akan pulang
Setiap hari selalu ingin mendengar suaraku
Maafkan keterbatasanku sebagai seorang pekerja, juga jarak dan pandemi yang tak mereda yang akhirnya kita tak bisa bersama
Sampai pada hari kau ingin berpulang, kau masih bertanya kapan aku akan pulang
Rindu ingin bertemu, katamu
Namun, lagi-lagi aku tak memenuhi keinginanmu
Sampai akhirnya aku kembali, namun yang ku lihat hanyalah gundukan tanah yang sudah menguburmu rapat
Aku masih mengingatnya
Ramadhan tahun ini kau telah tiada
Fisikmu memang telah hilang dari pandanganku
Namun kasih sayangmu masih terasa dihidupku
Senyum dan perhatianmu masih tergambar jelas di pikiranku
Dan rindumu, masih melekat di hatiku
Hari ini aku kembali
Dan aku kehilanganmu lagi
Memori-memori itu terus berdatangan
Membentuk sebuah kenangan
Kini duka hanyalah luka
Aku belum tahu bagaimana cara untuk bangkit kembali
Pertahanan ini luruh, hatiku sudah hancur
Separuh kebahagiaanku hilang
Hidup ini terasa hampa tanpa kehadiranmu
Aku rindu, pak
Mengingat semua hal tentangmu membuatku kembali jatuh
Aku terbiasa denganmu
Dipeluk dan dicium dengan manja layaknya anak kecil
Aku masih ingin bertemu
Berkeluh kesah dan tertawa lagi bersamamu
Sungguh aku tersiksa, pak
Rindu ini sudah kehilangan tuannya
Tidak tahu dimana harus menepi
Hanya lantunan doa dalam tangisan yang bisa ku lakukan
Aku rindu, itu saja
Yogyakarta, 05 Desember 2020
10.45 WIB
Aku ingin menghilang
Aku ingin menjadi serpihan debu yang melayang dihempas angin
Lalu dilupakan dan tak kembali
Aku ingin menghilang
Menyatu dengan alam dalam diam
Memejamkan mata dan terbang bersama burung di udara bebas
Aku ingin menghilang
Mendekam mereka yang tak bisa diam
Membunuh kata yang terlontar tanpa permisi
Aku sudah lelah
Ingin lekas menghilang dan terlupakan
Yogyakarta, 20 Oktober 2020
11.06 WIB
Beribu rencana siap dikibarkan
Namun segalanya terpatahkan atas dasar ketidaksabaran dan tuntutan
Aku hanya manusia biasa yang tidak bisa lepas dari kekurangan
Aku juga seorang pekerja yang memiliki caraku sendiri dalam bertindak
Aku bukan balita yang harus diajarkan bagaimana itu A, B, atau C
Bila memang tidak bisa untuk membantu
Mohon untuk tidak memberatkan
Semua usaha dan kerja keras terasa sia-sia
Tak ada apresiasi maupun sekedar senyuman bahagia
Tak bernilai semua yang telah ku lakukan
Karena bagimu, aku terlalu banyak kekurangan
Dan harus kau yang meluruskan agar tidak ada lagi kekurangan dari diriku
Tapi kau lupa, bahwa aku adalah manusia.
Yogyakarta, 25 September 2020
14.27 WIB