Cerita, Cinta, dan Kita

Sabtu, 12 Mei 2018

Tak terlihat

Tidak ada lagi yang mampu ku percaya. Semua tipu muslihatmu sudah ku telan bulat-bulat. Tiada lagi kata yang bisa memegang teguh semua janji. Sudahi permainan ini, anggap saja aku sudah gugur sebelum maju berperang. Tak perlu membantuku untuk berdiri, aku mampu menopang tubuhku sendiri.



Cirebon, 12 Mei 2018
Pukul 21.59 WIB
Read More

Sabtu, 14 April 2018

Bersamamu~

Mendengarkan cerita-cerita konyol yang tak penting adalah salah satu hal yang membuatku ingin terus bertemu.
Denganmu, aku merasa tak butuh apapun lagi selain dirimu.
Kamu, yang menjadi alasan untuk aku terus tertawa, melupakan segala hal yang bisa membuatku gila.
Bersamamu, sulit ku jelaskan bagaimana seharusnya kebahagiaan itu terpancar.
Hei kamu, yang bisa terus membuatku tertawa. Tingkahmu yang tak masuk akal selalu terngiang dan membuatku ingin tertawa jika mengingatnya.
Aku bahagia. Sudah, itu saja.

-Hariyatunnisa Ahmad-
Surakarta, 14 April 2018
22.22
Read More

Rabu, 28 Februari 2018

Di sini, di sampingku

Ada hari dimana aku menyerah, dan ia tetap tegak berdiri. Ada hari dimana kami beriringan dengan kokoh menghalau badai. Aku tak mengerti, terkadang aku lelah dan membutuhkan istirahat lalu kembali berdiri dan berjalan bersamanya, tapi ia tak pernah beristirahat sedetikpun, menjauhkan pandangannya dariku saja tak pernah.
Aku pernah dipapahnya, menapaki selintas jalan yang suram, dan aku hanya diam mengikuti. Ia tahu kapan aku harus beristirahat, dan kapan harus berjalan, tak pernah memaksa. Tapi, aku selalu memaksanya untuk tetap berdiri dan melindungiku dari segala serangan yang mungkin datang. Terdengar egois memang, tapi begitu kenyataannya.
Aku tak ingin menjadi orang jahat yang berlindung dibalik tubuhnya, aku pun sama sekali saja, meskipun itu sangat singkat dan tak berarti, aku bisa melindunginya. Namun sayangnya, hal itu tak pernah terjadi.
Aku menyayangkan diriku sendiri yang tak pernah bisa melakukan segalanya sendiri, dan ia harus tetap membantu, dengan atau tanpa paksaan.
Jangan pernah berubah untuk terus berjalan bersamaku, memapahku saat aku mulai menyerah, memberiku ruang untuk beristirahat di saat aku lelah, dan melindungiku dari apapun yang mengancam. Tetaplah seperti sekarang, meski waktu terus berputar dan hari tak akan berhenti, di sini, di sampingku, kuatkan bahumu untukku bersandar.

Surakarta, 28 Februari 2018
22.02 WIB
Read More

Senin, 25 Desember 2017

F3AL

Kembali ku temukan serpihan yang sempat menghilang. Mengapa semua ini saling berkaitan? Aadakah campur tanganmu agar kau tak terlepas dari pikiranku? Saat semua berjalan sesuai dengan apa yang ku harapkan, tak ada jeda, tak ada jejak dirimu, baik di hatiku maupun jemariku. Kini kau kembali hadir, bukan dengan sosok tubuh yang bisa ku gapai, bayangmu yang menggerogoti pikiranku dan membuka masa di waktu dulu. Biarkan aku berjalan dengan apa yang ku pilih -tanpamu- jangan lagi kau sesalkan waktu yang hilang karena kecerobohanmu. Aku bukan kesalahan yang bisa kau sesalkan kehadirannya, aku juga bukan kebenaran yang bisa kau andalkan. Menjauhlah dari apa yang kau tinggalkan, tak perlu membuka waktu yang telah rapat tertutup tirai malam. Aku tak ingin kau ada di sini, di sampingku.
Read More

Sabtu, 07 Oktober 2017

Surat Terbuka di Waktu Mendatang

Teruntuk suami di masa depanku yang sampai saat ini senantiasa di rahasiakan Sang Pencipta, izinkan aku berkata-kata sebelum kita dipersatukan.
Aku, seorang perempuan yang penuh dengan amarah, manja, dan sangat menyebalkan. Aku tak pernah bisa mencintai seseorang dengan benar, caraku selalu salah. Semoga padamu, yang ditakdirkan untuk menemani masa tuaku, menemaniku menikmati rinai hujan di atas balkon dengan segelas teh hangat, semoga hanya padamu caraku mencinta adalah tepat, waktu ku mencinta teramat istimewa. Kau yang teristimewa, aku ingin mencintaimu seperti kecintaanku pada hujan. Seburuk apapun hujan, aku tak pernah membencinya, aku tak pernah merutuknya, segenting apapun keadaannya saat hujan, tetap saja aku mencintainya. Untukmu suamiku di masa depan, yang sampai saat ini masih belum bisa ku jangkau, tuntunlah aku menjadi bidadari sholehahmu, genggam tanganku dan tuntun aku menuju Jannah-Nya. Untukmu, suami di masa depanku, semoga Sang Pencipta senantiasa menjagamu. Kau tau? Aku pernah khilaf mencintai seseorang sebelum kau, aku bukan sholehah idaman, tapi semoga kau bisa menyempurnakan imanku, menerimaku yang berkali-kali masuk dalam rumah yang salah, yang akhirnya membawaku pada rumah terakhirku, rumah ternyaman untukku pulang, hatimu. Lelaki ku, semoga kau masih mau bersabar sampai Tuhan mempertemukan kita. Kehidupanku tak baik, maka baikkanlah. Hatiku tak cantik, maka cantikkanlah. Imanku tak sempurna, maka sempurnakanlah.

-Hariyatunnisa Ahmad-
Surakarta, 07 Oktober 2017
08.19 WIB
Read More

Senin, 02 Oktober 2017

Teman "Hati"

Boleh aku sedikit bercerita? Tentangnya yang tak pernah lelah bersabar menghadapiku, tentangnya yang selalu bisa menenangkanku, tentangnya yang terus menghujam rindu, dan tentangnya yang membuatku jatuh cinta berulang kali.
Seorang pria yang tak pernah absen menanyakan kabar, setiap saat diwaktu luang tak pernah henti bertanya "sedang apa?", disela sibuknya tak pernah meluputkanku dari pikirannya.
Pria itu memang tak setampan aktor idolaku, tubuhnya tak atletis, fisiknya memang bukan idaman kebanyakan wanita, tapi ia idamanku. Biar hanya aku yang menginginkannya.
Hei taukah kau? Aku selalu memendam cemburu yang tak jelas saat kau tiba-tiba tak ada, saat kau berpamit untuk pergi dengan wanita lain, bahkan saat kau bercanda dengan wanita lain di hadapanku, yang akhirnya membuatku merasa kesal dan jadi tak menyenangkan untukmu.
Secara tiba-tiba aku bisa merasa jatuh cinta, dengan tiba-tiba pula aku bisa berpikir bahwa kita tak mungkin satu. Terlalu lama menjaga yang semoga memang harus dijaga, dengan sekian banyak a b c di jalanan, kita masih tangguh menghalau.
Aku sering merasa sangat dicintai dan sangat jatuh cinta padanya, tapi sepersekian detik aku bisa merasa aku membencinya. Sudah banyak terjatuh dalam waktu yang tidak singkat, pengalaman demi pengalaman berdatangan menjabat tangan.
Semoga selalu aku dengannya bisa saling menjaga, tanpa emosi yang berlebih. Dia yang tak pernah mengeluh atas sifat manja, bahkan sifat kekanak-kanakan ku, aku bisa melambungkannya tinggi dan kemudian ku jatuhkan dengan sangat kasar.
Semoga selalu tak pernah habis rasa itu padaku.
Read More

Senin, 25 September 2017

Aku

Aku
Hembusan angin yang menyesatkan
Petir yang memekakkan telinga

Aku
Gelandangan yang terlunta
Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain

Aku
Adalah sepi ditengah badai

Aku
Rinai hujan yang dirutuk orang
Panas mentari yang tak diharapkan

Aku
Tiada sempurna barang sedikit

Aku
Tetiapa tanpa hadirMu

-Hariyatunnisa Ahmad-
Surakarta, 25 September 2017
21.30 WIB
Read More

Pageviews

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Description

Seorang istri, anak, kakak, adik, dan pendidik.

Pages - Menu

Friendship