Cerita, Cinta, dan Kita

Jumat, 13 Mei 2016

Yang Menantimu

Seberapa jauh pun kita melangkah ke arah yang berbeda, kita pasti akan bertemu
Pasti
Seburuk apapun masa lalumu
Sehina apapun masa laluku
Mari kita ciptakan masa depan yang lebih baik
Tinggalkan labirin kehidupan yang membuat pandangan buram
Langkahkan kaki ke taman penuh warna
Disana ada aku

Yang menantimu

-Hariyatunnisa Ahmad-
Read More

Hanya Tentang Waktu

Berdirilah
Berjalan beriringan dengan masa depan
Tapi jangan biarkan dendam masa lalu memenuhi ruang hatimu
Berdamailah
Karena tak kan pernah ada masa depan tanpa masa lalu
Bahkan pelangipun pernah mengkhianati hujan
Tapi bukankah hujan tetap setia menunggu kedatangan pelangi?
Meskipun pelangi sering mengkhianati hujan, penghuni alam lebih menginginkan kehadiran pelangi
Kau tahu bagaimana hujan?
Ia tetap melimpahkan kebahagiannya meskipun seringkali dirutuk
Ia tak pernah lelah apalagi menyimpan dendam pada pelangi
Hujan yang selalu dirundung pilu
Menangis tersedu setiap waktu
Pelangi tak pernah tahu
Pelangi hanya tersenyum dalam ketidaktahuannya

Ironi bukan?

-Hariyatunnisa Ahmad-
Read More

Entahlah

Kelam malam tak banyak bertutur
Hanya pekatnya yang mewakili
Relung ini entah pergi kemana
Ia menjangkau semua kemungkinan, hingga tak ada satupun yang di dapat
Tersudut dalam riuhnya dunia
Tak ada mata yang melihat, menoleh pun enggan
Seperti inikah dunia yang seharusnya kumiliki?
Tak tegakah Kau membiarkanku terkapar tanpa teman?
Sepi ini semakin merenggut jiwaku
Bertemankan pekat malam tanpa bintang
Bulanpun malu untuk menampakkan wajahnya
Cepatlah datang hai pagi

Aku menunggumu dibalik jendela kamar

-Hariyatunnisa Ahmad-
Read More

Rasa Ini

Rasanya beban ini terlalu berat di pundakku, penat sekali hidup ini. Kau tahu? dengan hanya melihatmu saja aku ingin sekali bersandar di pundakmu, diam meresapi nyamannya berada di pundakmu, tak perlu bicara hanya siapkan saja pundak dan dadamu untuk ku bersandar. Tapi, belakangan ini aku merasa aku selalu terlihat lemah di hadapanmu, sampai akhirnya aku urungkan niat untuk meminjam pundakmu, aku ingin terlihat tetap kuat untukmu, meskipun sebenarnya aku benar-benar ingin sekali menangis di pundakmu, bersandar selama yang aku perlukan.
Aku tahu, kau tidak hanya sebagai teman hidupku, tapi bagiku kau juga ayahku, kakakku, sahabat terbaikku, semuanya ada padamu. Aku benar-benar lelah, ingin rasanya beristirahat barang sejenak untuk melupakan semua penat yang menggantung di kepalaku, ingin meluapkan segala keluh kesahku padamu, ingin menangis sejadi-jadinya dalam pelukanmu. Tapi sekali lagi, aku urungkan niat itu, agar aku tidak selalu terlihat lemah di hadapanmu.
Read More

Rabu, 16 Maret 2016

Hujan untuk Senja

Created by Hariyatunnisa Ahmad
Prolog

            Jam dinding menunjukkan pukul 17.30, Reina mengelus perutnya manja sembari menatap langit di taman belakang rumah. “Senja ini cantik sekali, semoga kau juga akan secantik senja ini dan meneduhkan seperti jingganya” ujar Reina lembut. Tiba-tiba guntur datang saling bersahutan, bulir-bulir hujan mulai turun bergantian membasahi tubuh Reina. “Rei, masuklah. Jangan sampai kau kehujanan” teriak Endi, suami Reina.
            Lama mereka bercengkrama di depan televisi yang mempertontonkan acara komedi, jari-jemari yang menyatu diantara dua tubuh sepasang suami istri itu semakin erat merangkul satu sama lain. Jemari Reina semakin erat menggenggam Endi, mulutnya sedikit mengeluarkan suara rintihan menahan rasa sakit. “Kau kenapa?” tanya Endi. Reina tak menjawab, ia hanya meringis dan memegangi perutnya yang terasa sangat mulas.
            “Ya Tuhan! Jangan-jangan kau....” Endi memotong kata-katanya sendiri, dengan secepat kilat ia mengambil kunci mobil yang bertengger di dinding kamarnya. Dengan susah payah Endi mengeluarkan mobil dari garasi rumahnya, tubuhnya gemetaran, ia takut dan juga gugup. Endi membawa Reina ke dalam mobil dan mengantarnya ke rumah sakit terdekat.
            Sampai di ruang persalinan, Reina semakin merintih kesakitan. Endi tak sanggup melihat Reina menahan rasa sakitnya sendirian. Peluh bercucuran menghiasi  wajah cantik Reina. Diluar sana, hujan semakin deras menjatuhi tanah, gemuruh bersahutan tak memberi jeda. Wajah Endi terlihat pucat, wajah Reina lebih pucat. Semuanya menunggu akan kehadiran buah hati yang ditunggu-tunggu selama ini, buah cinta Reina dan Endi yang pertama.
            Menurut dokter, janin yang ada dalam kandungan Reina adalah seorang putri cantik nan jelita. Ya, jenis kelaminnya perempuan. “En...di...” lirih suara Reina memanggil Endi yang berdiri di sampingnya, menemaninya sedari tadi. “Iya sayang. Sedikit lagi, kau pasti bisa. Putri jelita ingin melihat wajah cantik yang melahirkannya” ucap Endi dengan tenang meski terlihat raut wajahnya menggambarkan ketakutan.
Read More

Selasa, 16 Februari 2016

Diam itu Pengecut

Tuhan menganugerahkan mu sebuah mulut beserta lidahnya. Bila memang sulit berbicara maka diam (mungkin) merupakan jawaban. Menurutmu. Beranilah. Jangan jadi pengecut yang bersembunyi di balik diam. Kau mengenalku, kau mengerti dengan baik bagaimana diriku, tak apa bukan jika kau berbicara yang sebenarnya padaku?
Terimakasih bila kau mengira hal tersebut akan menyakitkan ku, sehingga kau lebih memilih untuk diam. Tapi aku pun bukan Tuhan yang bisa mengetahui isi hati setiap manusia, aku butuh sesuatu untuk dijelaskan.
Bolehkah aku bersikap antagonis sekali ini? Bukan, bukan karena aku merasa akulah yang paling benar, akulah orang terbaik. Kau tahu bagaimana rasa jengah menyergapmu? Jangan biarkan rasa itu datang padaku, dan aku berbalik arah dari pandanganmu. Aku masih temanmu.
Manusia bukanlah pajangan dinding yang bisa diabaikan, hatinya diciptakan oleh Tuhan, karenanya sangatlah kuat. Bukan berarti hati yang kuat, bisa kau perlakukan semaumu, bisa kau iris setiap kau merasa sakit, bisa kau lempar jika kau sedang marah, bisa kau injak-injak jika kau merasa terhina.
Kau cerdas, aku percaya. Maka dari itu aku pun percaya kau bisa menyelesaikannya dengan cerdas.
Read More

Rabu, 10 Februari 2016

Karena Kata Membuatmu Percaya -Prolog-

Malam ini masih di hiasi hujan, rintik – rintiknya menemani setiap detik di waktu tidurku, bunyi – bunyi petir yang menyambar, sekejap melintas beralun tenang seakan mengerti keadaanku, meramaikan dunia mimpiku, meski langit gelap tapi Tuhan masih memberi sedikit cahaya di langitku. Tak lama, Iris menampakkan sedikit keindahannya, melintas di sepanjang penglihatan, mewarnai langit yang sedari tadi mendung, pekat tak menarik.
            Semilir angin berhembus bersahutan dengan rinai hujan yang masih setia membasahi bumi. Dalam lelapnya malam yang tak tersapa, dengan asa digenggaman jemari, ku beranikan diri untuk menyapa mimpi. Sedang apa aku didalam mimpi? Ah, seharusnya ku putar saja anak kunci dipintu itu, tak usah bertanya, karena hanya aku yang mengetahui jawabnya.

Iris : dewi pelangi dalam mitologi yunani

***

Aku berdiri sendiri ditengah kerumunan orang yang lalu lalang melintasi jalanan, tak ada satupun yang ku kenal. Semuanya terasa asing, suasana ini, dan juga orang – orang ini. Tubuh ini terasa kaku, bibir ini tak ingin berkata meski hati berkali-kali berteriak memanggil seseorang yang membelakangiku, seseorang yang sempat menoleh namun tak sempat ku sapa dengan baik. Seharusnya ku biarkan ia pergi berlalu dan tak menoleh lagi, tapi kali ini aku memberinya kesempatan untuk kembali melihatku dan meninggalkanku, kesekian kalinya aku kehilangan.
Kehilangan. Kata yang mungkin menjemukan untuk semua umat, termasuk diriku. Bukan lagi berbicara tentang kekuatan saat ditinggalkan, kepiawaian menghadapi kesendirian, kesanggupan mencintai kesepian. Kehilangan yang selalu menjadi topik mengerikan pada pembicaraan apapun. Sekarang bukan lagi saatnya bercengkrama dengan ketakutan akan rasa ditinggalkan, sendirian bahkan kesepian, sudah saatnya beranjak dari ketakutan itu dan belajarlah mencintai kesendirianmu. Karena sendiri bukan berarti sepi, karena sendiri bukan berarti hampa.
“Ini hanya mimpi” bisik hati kecilku menenangkan. “Tak perlu khawatir, aku akan datang menemuimu, aku tak pernah melupakanmu, hanya sedikit melihatmu berbeda karena waktu yang merubahnya” suara parau yang tak asing ditelingaku, seseorang yang mungkin tadi meninggalkanku, kini berada di belakangku sembari membisikkan kata yang tak ingin aku dengar dari bibirnya. Terpaku terpana merasakan hembusan nafas dari mulutnya yang berhembus menjalari telinga dan leher jenjangku, aku masih tak ingin menoleh dan melihat siapa yang sedang berbicara padaku, ku biarkan perasaan ini mengambang dibatas waktu senja ini.
 Aku tak pernah mengira akan kembali bertemu dengan masa lalu yang akupun belum bisa berdamai dengannya, “untuk apa kau disini?” ucapku kasar. Sedetik kemudian ia sudah tak mengukur jarak di depan wajahku, kian mendekat dan terus mendekat, “tak bisakah kau sedikit saja bersikap ramah padaku?” ia menyeringai dengan mata penuh dendam. Aku bisa melihatnya.
            “Tak perlulah bagiku untuk beramah tamah di hadapanmu, tak cukupkah bagimu untukku membodohi diriku sendiri?” serangan telak tak mampu membuatnya berkutik. Ia terdiam. Penuh tanda tanya, ia pergi. Ya, aku memang tak ingin berdamai dengannya, berjabat tangan dengannya pun aku tak sudi. Enggan hatiku untuk menilik kembali masa lalu yang telah hilang itu.
            Aku terus berjalan dikoridor waktu, entah dimana jalan keluarnya, tak ada celah, tak ada pintu, tak ada jalan kembali. Kemana sebenarnya ia membawaku? Pikirku tak memberi jawab bahkan tak membiarkanku sejenak untuk beristirahat. Terus berjalan, ditepian tiang koridor aku melihatnya, melihat masa laluku yang telah berdamai denganku.
            “Ada apa?” suaraku membuatnya terkejut, “kemarilah, lihatlah ini!” ia bergeser dan terlihatlah sebuah benda kecil nan megah tak bercahaya namun kian lama kian meredup. “Apa itu? Kenapa kau ingin aku melihatnya?” Ia terdiam sejenak. “Bukan kau yang melalui waktu, tapi biarlah waktu yang melewatimu. Berdamailah. Karena waktu tak pernah memberimu kesempatan kedua”. “Aku mengerti”. Terhenyak menatap benda kecil yang kian bersinar hingga menyilaukan mataku. Hilang. Ia menghilang.
Ditepi tebing curam, ku lihat diriku berdiri tanpa teman, ditengah rindangnya pepohonan yang tumbuh secara liar, diterkam angin yang berhembus kencang semakin lama tubuh ini semakin goyah, terpejam mata ini dan perlahan pijakan kaki bergerak maju hingga akhir tepian tebing. Teriakan kasar air laut menghujam tubuh yang terjerembab didalam air, ombak mengombang-ambing tubuh lelah yang tak berjiwa.

***

Tersentak mata ini terbuka, langit-langit kamar terlihat jelas dengan lampu padam yang menggantung menghiasi langit kamar, keringat tak henti mengalir disekujur tubuh, nafas yang memburu seperti sehabis maraton selama berjam-jam. Menghirup nafas dalam, merasakan angin-angin yang masuk melalui pori-pori yang terbuka, melepaskan penjara udara melintasi bibir mungil yang agak terbuka. Terduduk ditepi ranjang, menggenggam kunci mimpiku yang terlihat berkarat. Telah lama aku tak membukanya, mereka tak inginkan aku datang.
Dunia gelap tak berwajah, memendam beberapa kenangan yang terkubur perlahan dalam pikiran, rinai hujan ini meresonansi kembali pikiran-pikiran yang seharusnya sudah ku lupakan. Perlahan menengadahkan tangan, mengumpulkan butir-butir hujan yang jatuh menetes dari atap-atap rumah. Semburat cahaya mulai nampak, mata yang terbuka disambut indahnya pelangi, hari mulai terang dan hujan semakin menyurut. Langit sudah lelah untuk menangis, meratapi kehidupan yang tak kunjung membaik, semakin kejam dan terus menusuk dada hingga sesak. Aku berdiri ditengah ribuan duri yang tumbuh di kisahku, tertatih menggapai muara disudut jalan, menepi pada bara api yang membara, tak ada waktu untuk berhenti.
“Lois, bukan aku tak ingin menerimanya. Aku hanya... ah sudahlah, lupakan saja!”. Seperti malam sebelumnya, temaram kini semakin pekat, dinginnya melekat hingga ke tulang, menyapa setiap bulu kudukku untuk berdiri merasakan tebasan angin yang menerpa tanpa henti. Kebisuan malam terus membungkam hati untuk tak lagi bicara, sepatah katapun, tak sedikitpun.
Cahaya lampu yang redup kian membutakan mataku, mengajakku untuk berkeliling di dalam kegelapan, apakah hari memang tak pernah seindah ini? Berdiam dalam ketenangan. Hanya bermandikan cahaya bulan.
            Ah aku melihatnya, dia yang dalam gelap tak bercahaya, menyatu dengan alam yang tak terduga kapan tertiup angin. Langit-langit kamar yang diam seribu bahasa enggan untuk menjadi saksi hadirnya ia dalam kehidupanku. Disini, dilantai ini ia pernah menapaki langkah kakinya untuk pertama kalinya, tepat dihari ini tiga tahun yang lalu.
Read More

Pageviews

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Description

Seorang istri, anak, kakak, adik, dan pendidik.

Pages - Menu

Friendship