Cerita, Cinta, dan Kita

Rabu, 10 Februari 2016

Karena Kata Membuatmu Percaya -Prolog-

Malam ini masih di hiasi hujan, rintik – rintiknya menemani setiap detik di waktu tidurku, bunyi – bunyi petir yang menyambar, sekejap melintas beralun tenang seakan mengerti keadaanku, meramaikan dunia mimpiku, meski langit gelap tapi Tuhan masih memberi sedikit cahaya di langitku. Tak lama, Iris menampakkan sedikit keindahannya, melintas di sepanjang penglihatan, mewarnai langit yang sedari tadi mendung, pekat tak menarik.
            Semilir angin berhembus bersahutan dengan rinai hujan yang masih setia membasahi bumi. Dalam lelapnya malam yang tak tersapa, dengan asa digenggaman jemari, ku beranikan diri untuk menyapa mimpi. Sedang apa aku didalam mimpi? Ah, seharusnya ku putar saja anak kunci dipintu itu, tak usah bertanya, karena hanya aku yang mengetahui jawabnya.

Iris : dewi pelangi dalam mitologi yunani

***

Aku berdiri sendiri ditengah kerumunan orang yang lalu lalang melintasi jalanan, tak ada satupun yang ku kenal. Semuanya terasa asing, suasana ini, dan juga orang – orang ini. Tubuh ini terasa kaku, bibir ini tak ingin berkata meski hati berkali-kali berteriak memanggil seseorang yang membelakangiku, seseorang yang sempat menoleh namun tak sempat ku sapa dengan baik. Seharusnya ku biarkan ia pergi berlalu dan tak menoleh lagi, tapi kali ini aku memberinya kesempatan untuk kembali melihatku dan meninggalkanku, kesekian kalinya aku kehilangan.
Kehilangan. Kata yang mungkin menjemukan untuk semua umat, termasuk diriku. Bukan lagi berbicara tentang kekuatan saat ditinggalkan, kepiawaian menghadapi kesendirian, kesanggupan mencintai kesepian. Kehilangan yang selalu menjadi topik mengerikan pada pembicaraan apapun. Sekarang bukan lagi saatnya bercengkrama dengan ketakutan akan rasa ditinggalkan, sendirian bahkan kesepian, sudah saatnya beranjak dari ketakutan itu dan belajarlah mencintai kesendirianmu. Karena sendiri bukan berarti sepi, karena sendiri bukan berarti hampa.
“Ini hanya mimpi” bisik hati kecilku menenangkan. “Tak perlu khawatir, aku akan datang menemuimu, aku tak pernah melupakanmu, hanya sedikit melihatmu berbeda karena waktu yang merubahnya” suara parau yang tak asing ditelingaku, seseorang yang mungkin tadi meninggalkanku, kini berada di belakangku sembari membisikkan kata yang tak ingin aku dengar dari bibirnya. Terpaku terpana merasakan hembusan nafas dari mulutnya yang berhembus menjalari telinga dan leher jenjangku, aku masih tak ingin menoleh dan melihat siapa yang sedang berbicara padaku, ku biarkan perasaan ini mengambang dibatas waktu senja ini.
 Aku tak pernah mengira akan kembali bertemu dengan masa lalu yang akupun belum bisa berdamai dengannya, “untuk apa kau disini?” ucapku kasar. Sedetik kemudian ia sudah tak mengukur jarak di depan wajahku, kian mendekat dan terus mendekat, “tak bisakah kau sedikit saja bersikap ramah padaku?” ia menyeringai dengan mata penuh dendam. Aku bisa melihatnya.
            “Tak perlulah bagiku untuk beramah tamah di hadapanmu, tak cukupkah bagimu untukku membodohi diriku sendiri?” serangan telak tak mampu membuatnya berkutik. Ia terdiam. Penuh tanda tanya, ia pergi. Ya, aku memang tak ingin berdamai dengannya, berjabat tangan dengannya pun aku tak sudi. Enggan hatiku untuk menilik kembali masa lalu yang telah hilang itu.
            Aku terus berjalan dikoridor waktu, entah dimana jalan keluarnya, tak ada celah, tak ada pintu, tak ada jalan kembali. Kemana sebenarnya ia membawaku? Pikirku tak memberi jawab bahkan tak membiarkanku sejenak untuk beristirahat. Terus berjalan, ditepian tiang koridor aku melihatnya, melihat masa laluku yang telah berdamai denganku.
            “Ada apa?” suaraku membuatnya terkejut, “kemarilah, lihatlah ini!” ia bergeser dan terlihatlah sebuah benda kecil nan megah tak bercahaya namun kian lama kian meredup. “Apa itu? Kenapa kau ingin aku melihatnya?” Ia terdiam sejenak. “Bukan kau yang melalui waktu, tapi biarlah waktu yang melewatimu. Berdamailah. Karena waktu tak pernah memberimu kesempatan kedua”. “Aku mengerti”. Terhenyak menatap benda kecil yang kian bersinar hingga menyilaukan mataku. Hilang. Ia menghilang.
Ditepi tebing curam, ku lihat diriku berdiri tanpa teman, ditengah rindangnya pepohonan yang tumbuh secara liar, diterkam angin yang berhembus kencang semakin lama tubuh ini semakin goyah, terpejam mata ini dan perlahan pijakan kaki bergerak maju hingga akhir tepian tebing. Teriakan kasar air laut menghujam tubuh yang terjerembab didalam air, ombak mengombang-ambing tubuh lelah yang tak berjiwa.

***

Tersentak mata ini terbuka, langit-langit kamar terlihat jelas dengan lampu padam yang menggantung menghiasi langit kamar, keringat tak henti mengalir disekujur tubuh, nafas yang memburu seperti sehabis maraton selama berjam-jam. Menghirup nafas dalam, merasakan angin-angin yang masuk melalui pori-pori yang terbuka, melepaskan penjara udara melintasi bibir mungil yang agak terbuka. Terduduk ditepi ranjang, menggenggam kunci mimpiku yang terlihat berkarat. Telah lama aku tak membukanya, mereka tak inginkan aku datang.
Dunia gelap tak berwajah, memendam beberapa kenangan yang terkubur perlahan dalam pikiran, rinai hujan ini meresonansi kembali pikiran-pikiran yang seharusnya sudah ku lupakan. Perlahan menengadahkan tangan, mengumpulkan butir-butir hujan yang jatuh menetes dari atap-atap rumah. Semburat cahaya mulai nampak, mata yang terbuka disambut indahnya pelangi, hari mulai terang dan hujan semakin menyurut. Langit sudah lelah untuk menangis, meratapi kehidupan yang tak kunjung membaik, semakin kejam dan terus menusuk dada hingga sesak. Aku berdiri ditengah ribuan duri yang tumbuh di kisahku, tertatih menggapai muara disudut jalan, menepi pada bara api yang membara, tak ada waktu untuk berhenti.
“Lois, bukan aku tak ingin menerimanya. Aku hanya... ah sudahlah, lupakan saja!”. Seperti malam sebelumnya, temaram kini semakin pekat, dinginnya melekat hingga ke tulang, menyapa setiap bulu kudukku untuk berdiri merasakan tebasan angin yang menerpa tanpa henti. Kebisuan malam terus membungkam hati untuk tak lagi bicara, sepatah katapun, tak sedikitpun.
Cahaya lampu yang redup kian membutakan mataku, mengajakku untuk berkeliling di dalam kegelapan, apakah hari memang tak pernah seindah ini? Berdiam dalam ketenangan. Hanya bermandikan cahaya bulan.
            Ah aku melihatnya, dia yang dalam gelap tak bercahaya, menyatu dengan alam yang tak terduga kapan tertiup angin. Langit-langit kamar yang diam seribu bahasa enggan untuk menjadi saksi hadirnya ia dalam kehidupanku. Disini, dilantai ini ia pernah menapaki langkah kakinya untuk pertama kalinya, tepat dihari ini tiga tahun yang lalu.
Read More

Senin, 11 Januari 2016

Petrichor-ku



Malam ini aku kembali lagi dengan segudang cerita risauku tentangnya. Maaf jika kau lelah untuk mendengarnya, aku hanya ingin berbagi, agar pundakku tidak begitu berat mengangkatnya.
Berawal tanpa cinta, tanpa rasa, tapi aku berusaha untuk menumbuhkannya, dan aku sudah jujur padanya bahwa aku menerimanya tanpa rasa, tapi rasa itu tumbuh seiring berjalannya waktu, ia membantuku untuk menumbuhkan rasa itu. Hingga akhirnya ia juga berkata jujur, memintaku untuk membantunya bangkit dari masa lalunya, aku tak pernah peduli tentang masa lalunya, bukan aku egois tak mau menerima masa lalunya, tapi itu hanyalah masa lalu yang telah ia lewati, aku tak punya urusan dengan masa lalunya, seburuk apapun, sesulit apapun masa lalunya dengan yang lain, aku tak pernah mempedulikan. Karna aku adalah hari ini, esok dan seterusnya untuknya. Masa lalu hanyalah masalah kemarin yang tak akan pernah kembali lagi.
Pelan-pelan, kami sudah berdamai dengan masa lalu kami masing-masing dan mulai menjalani “kita” yang masa kini. Aku senang, aku bahagia memilikinya. Jujur, yang aku rasakan adalah ia sangat peduli dan sayang padaku, mungkin rasanya lebih besar dari yang aku miliki, tapi mungkinkah kepercayaannya melebihi kepercayaanku? Hanya ia dan Tuhan yang tahu jawaban pastinya.
Tepat setahun sudah kami lalui bersama, semuanya mulai terungkap perlahan-lahan. Aku mulai bisa menerima sisi buruk dirinya, dan begitu juga dia seharusnya. Karena sebuah hubungan itu adalah tentang dua insan yang saling memendam rasa untuk kemudian diungkapkan dengan caranya masing-masing. Lantas jika hanya seorang yang memendam rasa untuk diungkapkan, apakah itu masih bisa dikatakan cinta?
Aku memang pernah memiliki sahabat baik lawan jenis, sangat dekat, sangat akrab, sampai-sampai semua orang mengira kami adalah sepasang kekasih. Tapi kedekatan itu tak lagi berlaku, ketika aku memilihnya. Aku meyakini hatiku, aku memilihnya bukan untuk mengecewakannya apalagi untuk menduakannya. Tak ada lagi teman dekat lawan jenis yang menghiasi petualangan ku di dunia, tiada lagi kata-kata manis dari teman akrab lawan jenis yang ku terima. Karena aku bersamanya, cukup bagiku mendengar semua perkataannya meski tak semuanya manis, cukup bagiku pergi bersamanya meski tak selalu tahu tujuan, cukup bagiku menggandeng tangannya meski kadang tak selalu diterima dengan baik. Bukan aku kekanak-kanakan, aku hanya merasa nyaman, bersamanya, aku merasa kenyamanan seperti halnya aku merasa nyaman ketika berada disamping seorang lelaki yang sangat aku cintai didunia ini, Ayahku. Mungkin alasan “cinta” itu juga yang membuatku merasa nyaman berada dekat dengannya.
Aku percaya sepenuhnya, ia takkan pernah berani untuk melukaiku, meski terkadang ucapannya sangat mengiris hati, perlakuannya hingga tak sampai hati aku untuk melihatnya. Tapi aku sungguh percaya, hanya dengan kata-katanya “aku sayang kamu” sudah cukup membuatku percaya seutuhnya.
Namun sepertinya Tuhan memberi sedikit pelajaran untukku, agar tak mudah mempercayai seseorang, sekalipun itu adalah orang yang paling kita cintai. Aku berusaha menjaga hatiku, menahan semua emosi bahagia untuk teman akrab lawan jenisku. Selama ini aku merasa “aku bangga menjadi kekasihmu, aku bahagia memilikimu” selalu ada seseorang yang mampu ku andalkan saat tak ada lagi cara untuk berdalih, selalu ada seseorang yang mempercayaiku saat semua orang melihatku sebagai pengkhianat, selalu ada seseorang yang menyayangiku tulus disaat semuanya mencibir dibelakangku. Tapi entah kenapa rasa seperti itu bisa lenyap dalam satu waktu. Cukup singkat, dalam sekejap, semua sirna.
Saat ia tak lagi mempercayaiku untuk memberi kabar, saat ia bisa pergi dengan seenaknya tanpa sepengetahuanku, saat ia bisa bermesraan dengan yang lain dibelakangku. Jujur saja, memang aku bukanlah wanita yang terlalu peduli dengan masalah kehidupan, aku biarkan saja semuanya berjalan seperti adanya, akankah ia memberitahuku? Sampai akhirnya tetap tidak.
Jika ia mudah mengumbar kata sayang kepada setiap wanita, lalu dimana aku harus merasa special untuk menjadi kekasihnya? Jika ia mudah membawa setiap wanita pergi dengannya, lalu dimana aku harus merasa bangga memiliki seseorang yang mampu ku andalkan? Jika ia tak pernah sempat memberiku kabar, memberitahu “jadwal kehidupannya” kepadaku, lantas dimana aku harus merasa senang menjadi orang yang diutamakan olehnya? Aku sama. Sama saja seperti teman-teman wanitanya yang lain. Aku bukanlah seseorang yang special untuknya, bukanlah seseorang yang diutamakan olehnya. Harusnya aku sadari itu dari awal. Jika memang berat untuknya melepaskan, seperti apa yang telah ku lepaskan, ku biarkan hati ini memakan dirinya sendiri.
Semakin lama, aku semakin lelah untuk menghadapinya. Lidah ini terasa kaku untuk membahasnya. Mulut ini selalu bungkam untuk meminta pengertian darinya. Aku bukan Tuhan yang selalu sempurna, aku bukan malaikat yang tak pernah merasa iri, aku juga bukan nabi yang selalu adil. Aku “wanita” seorang manusia yang sudah ditakdirkan memiliki hati yang mudah luluh dan hancur. Silahkan saja jika ia ingin menertawakan semua kata-kata yang keluar dari hatiku, ku akui, aku hanya seorang “wanita” hatiku bisa sekuat baja, tapi tak lantas membuatnya selalu mendobrak hatiku dengan kasar. Sebuah baja bisa patah jika terus menerus ditempa, akan berkarat jika terus menerus dibiarkan, dan bisa menjadi tajam jika terus menerus diasah. Aku hanya takut hatiku menjadi tajam, yang akan menusuknya kemudian, aku hanya takut suatu saat aku tak mampu lagi membendung semuanya, membiarkan hatiku diasah oleh emosiku sendiri. Aku hanya takut, hatiku akan menjadi pedang diantara kita.
Aku memang pernah berkata kepadanya “aku tak ingin membatasimu” tapi bukan berarti ia bisa leluasa tanpa batas bukan? Sama saja ia mengabaikanku, ia tak memperdulikan kepercayaanku, aku memang tak akan membatasinya, tapi jika ia sudah diluar batas, haruskah aku diam membiarkannya tersesat? Atau harus kutarik agar ia tak melewati batas?
Masih tentang masa lalu. Jika memang ia telah berdamai dengan masa lalunya, kenapa ia harus takut untuk menceritakannya padaku? Pertanyaan menusuk yang seharusnya dapat ia patahkan untuk membuatku tenang, justru ia membuatnya mengambang, seperti burung yang keluar dari sarangnya namun tak tahu kapan harus berhenti. Ada apa dengan masa lalunya? Adakah sesuatu yang belum aku ketahui tentangnya? Adakah ia bersembunyi dibalik tirai masa lalunya?
Sungguh aku tak pernah mengerti dirinya, apakah aku terlalu menutup diri? Apakah aku membatasi diriku padanya? Apa memang aku yang tak pernah ingin mengenal dirinya? Ia kekasihku, tapi aku seperti teman baru dihadapannya. Aku hanya ingin merasa diriku special untuknya, diriku penting untuknya, dan aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi yang pertama.

Aku terlalu banyak bercerita, adakah kau bosan mendengarku? Maaf jika selalu tentang dia yang ku bawa kepadamu, aku tak punya topik pembicaraan lain selain tentangnya. Jika kau bisa membantu, aku hanya meminta satu. Bantu aku untuk menopang hatiku J
Seorang juara maratonpun pasti akan merasa lelah juga, bukan? Ia yang dinomor satukan karena keahliannya berlari, tapi jelas ia akan pucat ketika selesai bertanding.
Aku membawanya pergi menjauh karena ia yang memintaku, dan mungkin itu harus menjadi keahlianku, membawanya pergi dari masa lalunya, tapi pertandingan belum berakhir, wajahku sudah pucat, lalu bagaimana?
Adakah ia ingat kisahku dahulu, bersama sahabat karibku, sahabat lelaki karibku. Kita berdua bahagia, sama seperti dirinya. Kami sudah memiliki pelengkap hati. Tapi tahukah ia, tetap saja semua itu semu, semuanya tak sesuai rencana. Adakah ia paham?
Akupun tak pernah tahu, apakah aku masih mempercayainya atau tidak. Bagaimana pendapatmu? Temanilah aku saat aku kehilangan arah, kuatkan aku saat aku mulai lemah, bantu aku berdiri saat tubuh ini terjerembap jatuh.
Temani aku di ramai dan sepiku, sayangi aku disehat dan sakitku, rindukan aku didekat dan jauhku, cintai aku dibaik dan burukku.
Aku hanya seorang yang mampu mengungkapkan setiap rasa pada sebuah tulisan, diamku adalah tulisanku. Ia akan tahu hanya dengan lewat tulisanku, karena aku bukanlah seseorang yang pandai mengungkap lewat lisan.

Untukmu yang kuyakini menjadi seseorang yang mampu membuatku merasa jatuh cinta disetiap waktu
Read More

Selasa, 08 September 2015

Prolog (lagi)



            Kemarin, setengah mati aku merindumu. Hari ini, setengah hati aku menemuimu. Merindumu bukan sekedar kata yang terucap. Ia selalu menancap dalam dada, menyakiti siapapun yang mendekat. Sedetikpun rindu tak memberiku kesempatan untuk bernafas lega.
            Merindukanmu bagai berdiri ditengah hamparan duri. Aku tak bisa menemukan jalan keluar dari duri-duri yang terus menyakiti langkah kakiku. Rindu selalu mengawasiku, dimanapun dan kapanpun. Ia tak pernah lelah mengingatkanku tentangmu. Membuat batin ini semakin perih merasakan rindu yang mengiris hati.
            Ah, rindu. Satu kata yang tak pernah terungkap maknanya, walau memiliki beribu macam arti. Satu kata yang mampu melumpuhkan ingatan tentang apapun kecuali dirimu. Hei rindu, kenapa kau begitu licik, kau memaksaku untuk menjabat tanganmu sebagai tanda bahwa akulah hambamu. Apa kau sekejam itu, rindu?
Read More

Rabu, 27 Mei 2015

Rindu Tak Bertuan

Rindu
Satu kata yang tak pernah kehabisan makna
Satu kata yang tak mudah untuk di ungkapkan

Seperti tanah yang merindukan hujan,
aku ingin merindukanmu
Membiarkan rindu yang terus menjalari hati ini
Sampai nanti, sampai kau datang untuk meredakan gejolak rindu yang menggebu di hati

Atau mungkin seperti langit yang merindukan bintang
Membiarkan diriku hanyut dalam kegelapan
Hingga kau datang mengulurkan tanganmu dan menarikku dari kegelapan ini

Rindu ini tak pernah terucap, tak jua pernah terungkap
Rindu yang tak pasti untuk siapa
Rindu yang datang dan pergi seenaknya
Rindu ini terus mencari tuannya

Berharap untuk segera bermuara

-Hariyatunnisa Ahmad-
Read More

Berselimut Rindu

Satu kata lagi
Ia tak ingin keluar,
masih malu dan terus bersembunyi

Dengan jarak tak sampai pandang
Berlalu tanpa berpamit
Tak ada keluh yang lebih melelahkan
Selain berharap rindu meninggalkan

Semakin lama, rindu ini semakin menggerogoti hati,
menyesakkan dada dan menyedak tenggorokan ku
Dengan atau tanpa air mata rindu ini memaksa untuk terus bersembunyi

Suara lembut yang menyapa di setiap pagi, kini ia tengah terlelap dalam pangkuan-Nya

Tenang…

Aku takkan mengganggu tidurmu, aku selalu menyelimuti mu dengan untaian doa

-Hariyatunnisa Ahmad-
Read More

Minggu, 24 Mei 2015

Semangat yang Padam

Hari ini, seperti biasa, aku masih duduk termangu menanti keajaiban datang. Keajaiban yang akan mengubah kehidupanku, keajaiban yang bisa menggugah semangat hidupku. Masih terngiang di telingaku, sebuah kalimat yang sampai saat ini masih sulit aku cerna, "pahamilah bahasa tubuhmu sendiri!". Singkat memang, tapi aku masih mencari arti dari kalimat sederhana itu.
Pernah berpikir untukku mengakhiri semua ini, mengakhiri hidupku yang entah bisa sampai berapa lama lagi, semakin lama semangatku mulai goyah, semakin lama tubuh ini terus berdemo meminta ku untuk berhenti. Sepertinya tubuh ini sudah memulai aksi protesnya, ia lelah untuk terus ku paksakan.
Jika memang haruslah aku berhenti sampai disini, jika memang perjuanganku harus ku sudahi sampai disini, aku hanya meminta, hentikanlah aku dengan baik, Tuhan :')
Hentikanlah perjuanganku yang terasa sia-sia ini, hentikan dengan baik dan perlahan, perlahan sampai aku tak akan bisa merasakan kepedihannya. Kepedihan mendengar racauan orang-orang di sekitarku, kepedihan akan kenangan tak baik yang aku berikan pada orang-orang di sekitarku.
Jiwa ini hanya milikmu, aku tak pernah memiliki hak apapun atas jiwa ini. Jika memang Kau ingin mengambilnya kembali, ambillah, tapi jangan sampai membangunkanku.
Tubuh ini lelah, diri ini sudah tak kuasa, rampaslah kembali apa yang menjadi milikMu ini, Tuhan.
Dulu, semangat ini sungguh tak pernah sulut dalam diri, selalu terus berkobar meminta bara api jika hampir padam. Kali ini, aku sudah tak memiliki persediaan bara api itu, semangat ini hampir padam, aku sudah tak ingin memberikan bara api semangat (lagi) untuk diri ini.
Sudahlah, jika memang Kau menginginkanku untuk terus berjumpa dengan segala ciptaanMu, biarkan aku seperti ini, sampai nanti Kau akan rela dan berbaik hati untuk menjemputku, mengambil apa yang memang milikmu, aku hanya seorang peminjam yang tak tahu diri, seorang peminjam yang tak pandai menjaga, maafkan aku telah mengecewakanMu..
Read More

Senin, 11 Mei 2015

This Is My Kingdom

Aku hanya ingin membagikan sedikit duniaku padamu, setidaknya agar kau lebih mengenalku lewat duniaku, bukan lewat dunia nyata yang ku isi dengan penuh kebohongan.
Aku sangat senang jika bercerita padamu, aku juga sangat antusias mengenalkan duniaku padamu, tapi sepertinya tidak sebaliknya yang aku dapatkan. Kau memintaku untuk lebih membuka pintuku, agar kau memiliki celah untuk bisa masuk, tapi saat pintu sudah mulai ku buka perlahan, kau justru lebih memilih balik badan.
Jika saja seseorang yang lain lebih mengetahui dan lebih mengenal duniaku, apakah hal itu tidak akan menyakitkanmu?
Bukan aku memaksamu untuk mengerti ataupun mengiyakan segala ambisiku. Tapi, aku hanya merasa risih disaat orang yang sangat ku inginkan untuk lebih mengenal duniaku justru acuh, tapi orang yang tak sangat ku harapkan ia justru lebih ingin mengenal duniaku, lantas apa yang bisa aku perbuat?
Meskipun sebenarnya dia bisa saja berkata "udahlah, aku ga ngerti kamu ngomong apa" tapi dia lebih memilih diam dan lebih ekspresif atas antusiasku pada duniaku. Tapi tidak denganmu, kau justru lebih memilih diam dengan senyum "beribu makna", senyum yang entah apakah tak ingin mendengarkan atau tak ingin mengetahui, ataukah senyum masa bodoh, atau mungkin senyum senang. Aku tak bisa menyimpulkan.
Kenapa orang lain bisa lebih menghargai segala aspek duniaku dibanding dirimu? Apa kau memang sudah tak ingin lagi tahu tentang fantasiku yang mungkin sudah melebar tak masuk akal?
Setidaknya aku hanya ingin dihargai, kau bisa lebih merespon apa yang aku utarakan. Kau bisa berjabat tangan dengan penghuni duniaku.
Ah, mungkin kau tidak akan terlalu memikirkannya, kau sudah memiliki pikiran lain yang jauh lebih penting. Tapi sudikah kau ada orang lain yang mengisi duniaku, dan itu bukanlah dirimu?
Sejujur-jujurnya diriku jika kau mengenal duniaku, bila kau hanya mengenalku di dunia nyata, kau tak akan pernah tau bagaimana aku. Maukah kau menerima kebohongan dari diriku dan membiarkan kejujuranku dimiliki oleh orang lain?
Bukan maksud hatiku untuk mendua, aku hanya ingin berbagi keceriaan, tapi sepertinya kau belumlah menjadi orang yang tepat. Dia bisa lebih menghargaiku, merespon meski ia sendiri tak pernah mengerti karena memang duniaku sangat bertolak belakang dengan dunianya, tapi ia bisa belajar untuk menerima semua cerita khayalku yang sama sekali tak pernah masuk di akal. Maukah kau meminta kejujuran dariku? Membiarkanku bersikap seadanya sebagaimana keadaanku di duniaku?
:)
Read More

Pageviews

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Description

Seorang istri, anak, kakak, adik, dan pendidik.

Pages - Menu

Friendship