Cerita, Cinta, dan Kita

Kamis, 08 Mei 2025

Hidup tapi tidak

 Langkah berpijak tanpa berlari

Terus hidup untuk mengatur nafas

Aku tak bisa lelah, dan tak bisa kembali

Aku ingin lepas dari tutur kata yang keras

 

Menanti pun tak kan berbuah

Sadar ku tak akan bisa bersama

Berakhir pun tak kan cukup

Hanya mampu menengadah dengan tangan tertutup

 

Maju berbekas, mundur hilang

Harapan masih tergantung menembus langit

Tapi kuasa tak mampu melampaui Sang Pencipta

Berdiri meski goyah dengan tubuh yang setengah remuk

 

Aku masih merindukannya

Seseorang yang ku sebut cinta pertama

Kini sedang lelap dalam tenangnya alam

Tertimpa nisan yang sering ku ajak bicara

Read More

Rabu, 09 April 2025

Pembukaan

 Sekian lama berhenti untuk berkarya. Banyak keterbatasan yang membuat jemari tak lagi bisa menari di antara huruf-huruf cantik. Bismillah, kita mulai lagi ya

Read More

Rabu, 12 Juni 2024

Tak Punya Muka

Mereka satu
Hanya berpadu dengan emosi
dan bersemayam dalam ego
Satu per satu mulai terkuak
Kulit kering mengelupas dengan sendirinya
Minim hidrasi dan rasa peduli
Orang yang jauh berbeda kini

Tidak satu
Dua, tiga, bahkan ratusan, mungkin juga ribuan
Mudah tersulut api cemburu
Bukan hanya dirimu yang terlelah di dunia ini
Bukan hanya dirimu yang terpenting di dunia ini
Bukan hanya dirimu yang paling berjasa di dunia ini
Biarlah orang memandang hanya sejengkal
Tapi tetap jaga pedulimu untuk sekitar

Bukan menjadi orang yang berbeda
Mereka tetap satu
Hanya berpadu dengan resah
dan penuh dengan keluh kesah

Bermain dengan peluh yang berpeluruh
Bercengkrama dengan asam yang terus mengikis
Bergelut dengan mereka yang tak punya hati

Yogyakarta, 12 Juni 2024
- 10.49 WIB-
Read More

Kamis, 09 Februari 2023

Mati

 Merasa terlalu berat untuk semua yang sedang dijalani. Aku yang terbiasa dibantu dengan dua pasang kaki yang gagah, kini tersisa satu pasang. Jalanku sudah pincang, tidak ada pengganti untuk sepasang kaki yang telah hilang.

Terkadang merasa tak sanggup untuk menjalani kehidupan yang sama sekali bukanlah aku di dalamnya. Kehidupanku adalah orang lain yang menjalankannya, aku sudah kehilangan diriku sejak lama. Sejak hari itu, mendung dan gelap tanpa celah, rintik hujan yang tajam menghujam butiran tanah yang ditapaki. Aku sudah hilang, lama hilang.

Bahkan diriku sendiri tidak mampu mencari keberadaan diriku sendiri. Ragaku masih tegak berdiri menjalani kehidupan yang abu-abu, namun jiwaku sudah ikut terkubur dalam dinginnya tanah kubur di bawah nisanmu. Layaknya mayat tak berjiwa, berjalan di atas bumi entah siapa.

Aku lelah menjalani kehidupan yang sama sekali bukan aku di dalamnya. Hati dan pikiranku sudah terlanjur hancur tak bersisa, bahkan mungkin tertiup angin dan hilang dalam tenang. Aku tidak tahu, kehidupan siapa yang kini ku jalani. Aku tidak tahu, peran siapa yang sedang ku mainkan. Aku tidak tahu, jiwa siapa yang bersemayam dalam raga ini.

Read More

Rabu, 05 Mei 2021

Aku Kembali

Setiap kembali, rasanya aku seperti kehilanganmu berkali-kali

Aku masih ingat kau selalu datang menjemput jam berapapun aku tiba, selelah apapun harimu

Terduduk di kursi tunggu seorang diri sejak satu jam sebelum kedatanganku

Senyum terukir di wajahmu saat kau melihatku turun dari sebuah gerbong kereta

Tatapan penuh syukur dan bahagia terpancar selama kau melihatku berjalan ke arahmu

Tanganmu sudah terbuka seolah-olah siap memelukku dari kejauhan

Pelukan erat yang kau sematkan di tubuhku, mengelus punggungku sembari berucap syukur


Aku masih mengingatnya

Ramadhan dua tahun lalu kau yg terbaring di ranjang rumah sakit karena tubuhmu yang luar biasa melemah

Kau selalu bertanya kapan aku akan pulang

Disaat kau tak mampu menggerakkan tubuhmu sendiri berhari-hari

Malam itu, aku datang melihatmu

Tanpa aba-aba dengan kekuatanmu sendiri kau menopang tubuhmu untuk duduk

Semua yang menyaksikan tak percaya atas kekuatan rindumu padaku

Seperti biasa, tanganmu terbuka ingin memelukku

Pelukan erat yang tak bisa menahan muara tangismu kian mendesak hatiku

Baru ku tahu, inilah rindu seorang ayah pada putrinya, rindu menggebu yang tak tertahankan


Aku masih mengingatnya

Ramadhan tahun lalu kau tak pernah bosan bertanya kapan aku akan pulang

Setiap hari selalu ingin mendengar suaraku

Maafkan keterbatasanku sebagai seorang pekerja, juga jarak dan pandemi yang tak mereda yang akhirnya kita tak bisa bersama

Sampai pada hari kau ingin berpulang, kau masih bertanya kapan aku akan pulang

Rindu ingin bertemu, katamu

Namun, lagi-lagi aku tak memenuhi keinginanmu

Sampai akhirnya aku kembali, namun yang ku lihat hanyalah gundukan tanah yang sudah menguburmu rapat


Aku masih mengingatnya

Ramadhan tahun ini kau telah tiada

Fisikmu memang telah hilang dari pandanganku

Namun kasih sayangmu masih terasa dihidupku

Senyum dan perhatianmu masih tergambar jelas di pikiranku

Dan rindumu, masih melekat di hatiku


Hari ini aku kembali

Dan aku kehilanganmu lagi

Read More

Sabtu, 05 Desember 2020

Rindu Tak Bertuan

Memori-memori itu terus berdatangan

Membentuk sebuah kenangan

Kini duka hanyalah luka

Aku belum tahu bagaimana cara untuk bangkit kembali


Pertahanan ini luruh, hatiku sudah hancur

Separuh kebahagiaanku hilang

Hidup ini terasa hampa tanpa kehadiranmu


Aku rindu, pak

Mengingat semua hal tentangmu membuatku kembali jatuh

Aku terbiasa denganmu

Dipeluk dan dicium dengan manja layaknya anak kecil

Aku masih ingin bertemu

Berkeluh kesah dan tertawa lagi bersamamu


Sungguh aku tersiksa, pak

Rindu ini sudah kehilangan tuannya

Tidak tahu dimana harus menepi

Hanya lantunan doa dalam tangisan yang bisa ku lakukan

Aku rindu, itu saja


Yogyakarta, 05 Desember 2020

10.45 WIB

Read More

Selasa, 20 Oktober 2020

Aku Ingin Menghilang

 Aku ingin menghilang

Aku ingin menjadi serpihan debu yang melayang dihempas angin

Lalu dilupakan dan tak kembali


Aku ingin menghilang

Menyatu dengan alam dalam diam

Memejamkan mata dan terbang bersama burung di udara bebas


Aku ingin menghilang

Mendekam mereka yang tak bisa diam

Membunuh kata yang terlontar tanpa permisi


Aku sudah lelah

Ingin lekas menghilang dan terlupakan


Yogyakarta, 20 Oktober 2020

11.06 WIB

Read More

Jumat, 25 September 2020

Aku, manusia biasa

 Beribu rencana siap dikibarkan

Namun segalanya terpatahkan atas dasar ketidaksabaran dan tuntutan

Aku hanya manusia biasa yang tidak bisa lepas dari kekurangan

Aku juga seorang pekerja yang memiliki caraku sendiri dalam bertindak


Aku bukan balita yang harus diajarkan bagaimana itu A, B, atau C

Bila memang tidak bisa untuk membantu

Mohon untuk tidak memberatkan


Semua usaha dan kerja keras terasa sia-sia

Tak ada apresiasi maupun sekedar senyuman bahagia

Tak bernilai semua yang telah ku lakukan


Karena bagimu, aku terlalu banyak kekurangan

Dan harus kau yang meluruskan agar tidak ada lagi kekurangan dari diriku

Tapi kau lupa, bahwa aku adalah manusia.


Yogyakarta, 25 September 2020

14.27 WIB

Read More

Rabu, 15 Juli 2020

Masih Menata Hati

Terlalu dini untuk menghadapi ini semua
Sepertinya aku tidak pantas berada di lingkaran ini
Batinku tersiksa, hatiku hancur
Dunia yang seperti ini bukan dunia yang aku inginkan

Pikiran-pikiran jenuh terus menekan batinku
Entah, apakah aku kuat sampai nanti berada di garis finish
Atau justru aku menyerah dan memilih berbalik arah

Habis air mata ini
Tak ada satupun yang ingin mengerti
Sebenarnya aku tidak tahu ingin menjadi apa aku ini

Hingga akhirnya memilih mencoba dan terjerumus di dalamnya
Aku ingin menyerah
Tak sanggup menaklukan rintangan dunia

Aku lelah...

Yogyakarta, 15 Juli 2020
05.49 WIB
Read More

Selasa, 07 Juli 2020

Aku Menyerah

Aku lelah
Bila hanya aku yang mencoba
Tidak ada kepuasan dalam hati ini
saat melihatmu melakukannya

Aku sudah tidak di lingkaran masa kecil
Aku mengerti,
Melihat dan memahami setiap gerakmu
Ternyata bukanlah yang kau inginkan

Aku menyerah
Bila hanya aku yang mencoba
Ada aku dan kamu, bukan hanya aku ataupun hanya kamu
Kita harus mencobanya dengan tekad yang kuat
Bilamana hasilnya tak sesuai harapan
Aku takkan mengalah
Aku takkan mundur

Aku menyerah
Untuk terus memacu mu dalam kesungguhanku

Aku menyerah
Untuk terus memaksa mu dalam keinginanku

Aku menyerah
Untuk terus mengajakmu berjalan bersamaku

Yogyakarta, 07 Juli 2020
08.36 WIB
Read More

Rabu, 01 Juli 2020

Menghilang Bersamamu

Disana, akan ku tunjukkan satu tempat yang belum pernah kau lihat
Mari bersembunyi dan menghilang dari keramaian dunia
Kita dengan mereka tak sama, begitu juga aku denganmu
Tak perlu kita melihat mereka

Habiskan saja dulu kecewamu,
setelah itu pegang tanganku dan kita kembali berlari
Hadapi dunia yang kejam tak berbelas kasih

Kita sudah kehabisan air mata untuk menangis
Kita sudah kehabisan kata untuk mengeluh
Sudahi saja
Biarkan semua terjadi sebagaimana mestinya

Aku selalu bersamamu.

Yogyakarta, 01 Juli 2020
10.49 WIB
Read More

Senin, 25 Mei 2020

Atas nama "Teman"

Aku sudah muak terpenjara dalam lingkaran kebohongan dengan dalih pertemanan. Aku bosan dengan semua narasi yang kau karang. Bila memang sudah tak ada lagi tautan dalam hati kita, pergilah cari tempat yang membuatmu nyaman. Aku tidak lagi mau terus mengikutimu, lelah menapaki jejak yang kau tinggalkan di sepanjang jalan.
Mungkin kau tahu, bagaimana rasanya jika yang lain dapat berbicara denganmu atas apa yang mereka ketahui, sedang aku hanya berpura-pura menjadi si tuli dan si bisu atas apa yang kalian bicarakan.

Aku bukan orang yang dengan mudahnya berteman, bisa kau hitung berapa temanku. Bahkan yang kau bilang teman baikku pun bisa kau hitung hanya dengan 5 jari. Sampai saat ini aku pun tak tahu, masihkah kau menjadi teman baikku?

Teman bukan Tuhan yang tahu segalanya tentangmu, teman juga bukan malaikat yang terus mencatat segala yang kau perbuat. Bagimu, seperti apakah teman itu? Apakah aku masuk dalam definisi teman yang kau buat?

Salah satu kekuranganku adalah tak bisa menyembunyikan "ketidaksukaan" pada sesuatu ataupun siapapun. Aku sering menyakiti setelah aku merasa tidak lagi dihargai, tidak lagi dianggap keberadaanku. Aku tidak peduli, karena seperti itulah caraku menunjukkan ketidaksukaanku padamu. Dan hal inilah yang masih menjadi PR bagiku setiap harinya untuk terus berbenah diri.

Sudahlah, aku sudah tak mau tau apapun lagi tentangmu. Aku muak dengan semua kebodohan yang mengatasnamakan teman.
Ceritamu milikmu, ceritaku milikku.

Yogyakarta, 25 Mei 2020
11.27 WIB
Read More

Jumat, 15 Mei 2020

Hari Belum Berganti

Senja belum berpulang
Hari masih belum berganti
Urutan peristiwa hari ini masih mengenang
Aku menjadi pribadi lusuh yang tak tahu diri

Mengukur nikmat dengan jemari di tangan
Tak ingat dengan apa yang sudah dicapai
Aku menggusur kenangan dengan tangis yang tak reda
Aku, manusia hina yang selalu menghitung derita

Berjuta cara ditunjukkan
Namun aku tetap bergeming
Meluluhlantakkan bingkai nikmat yang terpampang lebar
Dusta hati ini melihat mereka bahagia
Sedang aku, masih direndam pilu

Yogyakarta, 15 Mei 2020
9.04 WIB
Read More

Kamis, 16 April 2020

Malam, jangan cepat pergi

Seringkali saat malam datang dan mata belum ingin terpejam. Hal yang pasti ku lakukan adalah memandang wajah teduhmu yang damai. Sesekali diiringi suara dengkuran halus yang menandakan betapa lelahnya dirimu. Dalam hening air mataku sering mengalir tanpa perintah saat ku pandangi wajahmu yang lelap. Teriring doa di setiap malamku untukmu, imamku.
Menjalani hari bersamamu terkadang lelah. Lelah untuk terus tertawa, bahkan sampai harus menangis akibat tingkah lucu mu yang seringkali tak masuk di akal.
Aku mencintaimu dalam bangun dan tidurmu, sayang. Terkadang menatap wajahmu saat terlelap membuatku sedikit terkekeh, mengingat tingkah lakumu hari ini yang membuatku merasa konyol. Aku seperti mereview hari bersamamu. Ingin mengusap lembut pipimu, tapi aku takut akan mengganggu tidurmu.
Bahagia bisa melihatmu tidur dengan nyenyak di sampingku, setelah segala usaha yang kau lakukan untukku agar selalu bahagia. Aku tahu, kau pasti lelah. Diam-diam ku telisik guratan lelahmu, sayang. Terima kasih untuk terus berusaha membuatku tertawa, membuatku bahagia, membuatku bisa bertingkah layaknya balita.
Bersabarlah selalu untuk mendidikku menjadi istri yang baik, jangan pernah lelah membimbingku untuk menjadi istri yang sholehah. Teruslah membersamaiku sampai kita kembali dipertemukan Allah di jannah-Nya.

Yogyakarta, 16 April 2020
23.45 WIB
Read More

Jumat, 10 April 2020

Kembalilah Bumiku


Langit berabu kian membisu
Diam bergetar menghentak seisi bumi
Menyusuri kelamnya sudut-sudut bumi
Mengiringi mereka yang kembali ke bumi

Waktu terus berjalan tanpa henti
Tak memberi ampun siapapun yang ingin berhenti
Skenario suram sudah dimulai saat ini

Mereka yang dulu menantang langit
Kian menunduk menatap tanah yang basah
Satu persatu bumi mulai memilah
Sesiapa yang membuat lelah akan kembali ke tanah

Langit kelabu kini membiru
Riuh jalanan kini tinggal kenangan
Kecamuk masa lalu semakin menggebu
Memori indah masih rapi tersimpan

Sudahlah wahai bumi
Kami sudah mengakui
Terlampau banyak dosa yang tertanam dalam hati
Maafkan kami, manusia-manusia yang tak tahu diri
Aku tak mau berdiri diantara mereka yang mati

-Hariyatunnisa Ahmad-
Yogyakarta, 10 April 2020
22.30 WIB
Read More

Minggu, 05 April 2020

Surat Cinta Untuk Suamiku


Teruntuk suamiku,
Pernikahan kita mungkin orang bilang "baru seumur jagung", tapi jika dihitung sejak kita mulai dekat 6 tahun lalu, kau masih sama. Kau masih sama dengan segala kejahilanmu, sikapmu yang menyebalkan, terkadang membuat jengkel. Selain itu, kau tak pernah lupa untuk membuatku tertawa setiap hari, ada saja tingkah konyolmu yang membuatku terpingkal.
Suamiku, selama 6 tahun mengenalmu, aku selalu menyadari bahwa aku beruntung bisa dipersunting olehmu. Aku sering berulah, sikapku yang mungkin saja bisa membuatmu marah. Jika ku ingat-ingat lagi sikapku padamu, aku terkadang tak percaya. Bisakah aku semenyakitkan itu padamu? Tapi nyatanya memang iya dan kau tak pernah marah, sekalipun. Aku selalu ingat wajahmu yang tak pernah mengeras, suaramu yang tak pernah meninggi, dan tatapanmu yang selalu lembut. Kau selalu jadi pemenang dalam setiap emosi. Sedangkan aku? Hanya bisa jadi pecundang.
Suamiku, setiap hari kau selalu membuatku bahagia dan aku tak pernah absen menyakiti hatimu, walaupun sehari. Maafkan istrimu ini ya. Kau, tameng terkuat yang selalu bisa melindungiku. Setiap hari kau tak pernah memintaku untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. "Gak apa-apa, nanti aja" katamu setiap kali aku mengeluh capek.
Suamiku, terima kasih karena kau selalu belajar untuk mengerti, tidak pernah memaksa, bahkan selalu memberi apa yang aku pinta. Tiada kata lelah di benakmu, untukku. Apapun kau lakukan, hanya karena tak ingin ada air mata mengalir di pipiku.
Suamiku, aku tahu. Setiap kali aku menangis, hatimu hancur. Aku tahu dari sorot matamu dan suaramu yang melemah. Sigap kau memelukku. Aku tahu, kau hanya ingin aku bahagia dan tertawa.
Takkan habis kata-kata yang ku rangkai untuk mendeskripsikanmu, wahai suamiku. Aku hanya bisa bersyukur pada Tuhan, karena Ia telah menyatukan kita.

Yogyakarta, 05 April 2020
23.17 WIB
Read More

Selasa, 18 Juni 2019

Masih Menunggu

Menunggu memang bukan hal yang menyenangkan
Baru sedetik tapi terasa sudah bertahun-tahun
Aku sudah rindu
Dengan kehadiranmu yang tak kunjung datang
Tangismu yang ku nantikan masih membayang
Tubuh mungilmu di gendongan masih dalam awang-awang
Aku masih harus menunggu entah berapa lama lagi
Aku menunggu kau tumbuh dalam diriku
Aku menunggu kau menjadi separuh hidupku
Lalu, kapan kau akan datang?
Lelah hati ini bertahan dari mereka yang tak mau mengerti
Membuat nyali ku ciut
Keberanianku dilahap habis oleh mereka yang dengan bangganya mengoyak hati
Bukan lagi teriris, mungkin sudah hampir terputus hati ini terus dicabik
Aku muak untuk menampakkan muka di hadapan mereka
Aku muak!

Yogyakarta, 18 Juni 2019
Pukul 08.19 WIB
Read More

Kamis, 10 Januari 2019

Dia

Dia
Bait-bait cinta yang menggetarkan
Tercipta dari sanubari dan tersimpan dalam jiwa
Dia adalah puisiku

Dia
Syair terindah yang pernah ada
Untaian kata yang menyejukkan
Dia adalah laguku

Dia
Ungkapan kata yang merasuki jiwa
Menggenapkan hati dalam sepi
Dia adalah suara hatiku

Dia
Mengisi setiap jengkal kekosongan
Membalut hati yang dilanda sepi
Dialah milikku

Dia, yang tak pernah tergantikan
Untuk kini dan nanti

-Hariyatunnisa Ahmad-
Read More

Sabtu, 03 November 2018

Wahai hati, Tuhanlah pemilikmu.

Teruslah bersabar wahai hati. Tidak akan lama kau bahagia, tidak akan lama kau menangis. Semua sudah diatur sesuai porsinya. Teruslah tegar wahai hati. Tidak ada yg tidak bisa kau lewati, cepat ataupun lambat semua sudah diatur sesuai porsinya.
Tertawalah jika kau butuh bahagia, secukupnya. Menangislah jika kau butuh kecewa, secukupnya. Tak perlu berlebih, karena akan merusak porsi yang telah diatur oleh Tuhanmu.
Sudah dikatakan, jika kau berharap selain pada Tuhanmu, maka kekecewaan yang akan kau dapatkan. Tapi mengapa masih saja kau bersikeras untuk menaruh harapan selain pada Tuhanmu, wahai hati?
Kau memang tak pernah takut ataupun ragu untuk melepaskan apa yang telah engkau punya, karena semua yang ada padamu bukanlah sepenuhnya milikmu. Biarkan pergi jika harus menghilang. Biarkan ada jika harus datang. Kau tak perlu meminta, tak perlu berharap, Tuhan akan memberikannya padamu.
Cukupkan tawamu jika kau sudah merasa bahagia, cukupkan tangismu jika kau sudah merasa lega.
Tak perlu lagi memiliki kepercayaan yang berlebih pada selain Tuhanmu, kau selalu melihat kenampakkan akan kecemburuan Tuhanmu, tapi kau tak pernah peduli.
Percayakan apa yang kau percaya pada Tuhanmu, berharap apa yang kau harapkan hanya pada Tuhanmu. Biarkan Tuhanmu yang mengatur skenario hidupmu, kau hanya aktor yang berlaga di atas arena. Terima saja.

Hariyatunnisa Ahmad
Surakarta, 03 November 2018
Pukul 14.12 WIB
Read More

Senin, 27 Agustus 2018

Malam, aku belum mati!

Teruntuk malam yang sepi,

Kau selalu hadir disetiap waktu menjemputmu. Tak pernah mengeluh, meski ada orang yang merutuk dirimu. Tetap tegar membentang, meski tanpa bulan dan tak ada satupun bintang yang mewarnai. Kabut kelabu terkadang menyelimuti pekatnya dirimu, abu-abu tanpa dosa terus menyerang dan menyergap. Kau tetap tenang.

Kau selalu menemani siapapun yang kesepian. Menggenggam hati yang diliputi kecemasan. Menenangkan perasaan yang bergejolak tak menentu.

Aku ingin melepaskan sedikit perasaan yang menekan dan terus membuat dadaku sesak. Aku ingin menjadi temaram yang gelap, tak ada sesiapa yang melihat, kemudian lekas menghujan dan menghilang ke bumi. Tak ada sesiapa yang peduli, tak ada yang mengetahui. Aku ingin meraung di atasmu, menghujamkan luka di setiap bintang yang menghiasi. Agar malam tetap hitam. Aku tak mau ada terang.
- - -
Pilu yang semakin hari semakin sesak tak kunjung pulih. Semakin hari wajahku semakin bahagia, semakin hari hatiku semakin menjerit. Tak cukupkah kau mengoyak luka yang kering saja belum? Tak cukupkah kau menghardik pada hati yang tak cukup kuat menahan? Tak cukupkah kau menampar pipi yang masih tergambar bekas tanganmu?

Lihatlah aku. Aku ada di sini. Aku belum mati. Aku masih bernafas dan menginjakkan kaki ku di bumi. Belum pernah kah kau merasakan sakit yang teramat sangat? Saat birunya luka belum padam, kau kembali menghantam luka. Sakit. Tidak kurang, bahkan lebih. Teramat lebih.

Tidakkah berharga waktu yang pernah kita miliki bersama? Ataukah memang aku tak pernah ada dalam kehidupanmu? Oh mungkin aku ralat sedikit, aku memang tak pernah ada dalam kehidupan barumu -tanpaku.

Mataku masih melihat. Hatiku masih merasa. Tanganku masih menggenggam. Jantungku masih berdetak. Tidakkah itu cukup membuktikan bahwa aku belum mati? Lantas mengapa kau perlakukan aku seperti akulah orang yang telah mati?

Ingatlah, aku ada di sini. Aku belum mati.

Surakarta, 27 Agustus 2018
22.07 WIB
Read More

Pageviews

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Description

Seorang istri, anak, kakak, adik, dan pendidik.

Pages - Menu

Friendship